Harga Mintak Tanah Mencapai Rp 8.000,- Per Liter

BANDUNG-Harga bahan bakar minyak (BBM) semakin melambung tinggi, hal tersebut dirasakan oleh warga Cibangkong dengan harga minyak tanah mencapai Rp 8.000 per liter. Warga sangat terkejut dengan harga tersebut, karena setiap hari mereka menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari untuk bahan bakar kompor.

Warga yang setiap harinya menggunakan minyak tanah kurang lebih satu liter tentunya sekarang sangat tertekan, selain harga yang sulit dijangkau minyak tanah pun kini cukup langka. Tini (45) salah satu warga Kelurahan Cibangkong, Kecamatan Batununggal yang mengeluh dengan mahalnya harga minyak tanah.

“Kalau kemarin pas harganya Rp 3.000 seliter, ya masih bisa terjangkaulah. Tapi sekarang udah mencapai Rp 8.000 seliter, waduh sangat bingung juga kalau mau masak. Mahalan beli minyak tanah dibandingkan beli beras.” ujarnya.

Dengan harga Rp 8.000 per liter dan langkanya minyak tanah membuat warga bingung untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Jika pun ada yang jual di agen ataupun pedagang eceran itupun jaraknya cukup jauh dan harus antri untuk membelinya.

“Udah mah mahal susah lagi nyarinya. Untung saja saya mendapatkan meskipun jaraknya cukup jauh dan harus antri yang cukup panjang. Ya lumayanlah untuk satu hari juga. Harusnya pemerintah mensosialisasikan dulu kepada kita sebelum menaikkan harga suapaya kita bisa mencari jalan alternatifnya. Udah mah sekarang teh mau bulan puasa, ga mikir pisan pemerintah teh” ungkap Pandi (52) dengan nada mengeluh.

Tidak menutup kemungkinan penggunaan bahan bakar jaman dulu akan terlulang lagi sekarang ini dengan menggunakan kayu bakar. Karena dengan harga minyak tanah yang mulai diluar jangkauan warga tidak menutup kemungkinan kayu bakar akan kembali digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

RSC FM. Cibangkong Melaporkan

editor (roni.vikers@gmail.com)

2 Tanggapan

  1. Tingginya harga dan kadang langkanya minyak tanah dikeluhkan juga oleh seorang Bapak Tua, supir angkutan kota di Bogor.

    “Bagaimana Pemerintah bisa makin mempersulit ketersediaan minyak tanah, ya? Apa karena semuanya biar pake gas LPG?” tanyanya bernada mengeluh.

    Rupanya, bagi Bapak Tua itu gas LPG yang makin populer, bagaimanapun, masih jadi beban baginya dan rekan-rekan serumpun kerja dengannya, ialah para pekerja harian dengan penghasilan tidak tetap.

    “Kalau minyak tanah…mah kita bisa beli sesuai dengan keuangan kita. Bisa beli setengah liter kalau duit lagi pas-pasan. Kalau gas mah tidak bisa. Kita harus ‘jreng’ aja…17 rebu.”

    Kalau harga minyak tanah naik?

    Mungkin, memang masih bisa diatasi: beli seperempat liter saja. Cukup untuk sekali masak….

  2. mungkin di bogor mayoritas warganya memakai kompor gas. tapi di bandung menggunakan kompor gas masih jarang meskipun pernah ada pembagian kompor gas beserta tabungnya. namun kebanyakan warga cenderung menggunakan kompor minyak tanah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: