Yogyakarta Surganya Anak Jalanan

Yogyakarta surganya anak jalanan, itu selalu diucapkan anak – anak jalanan/komunitas jalanan dari luar kota Yogyakarta saat mereka menggelandang / “barang” ( mengamen ) ke Yogyakarta. Hal ini terjadi di era tahun 90 – an. Bagaimana dengan sekarang, apalagi adanya wacana akan terbit Perda gepeng (gelandangan pengemis) dan anjal (anak jalanan) oleh Pemprop DIY. Ini membuat anak jalanan / komunitas jalanan gusar dan membuat mereka menolak dengan berbagai alasan.

Adit, 18 tahun, selama ini ia tinggal di sanggar Mahjo GIRLI, Kampung Cokrodirjan, Dn II/ 300, Yogjakarta salah satunya. Saat ditemui Suara Malioboro Adit mengaku, sudah puluhan kali di garuk oleh petugas gabungan Satpol PP dan poltabes dengan alasan mengaggngu ketertiban umum.

Saat sedang latihan gitar Adit mengaku bahwa ia dan teman – temannya sering kucingan-kucingan kalau ada garukan dari Satpol Pol PP dan sudah banyak gitar kami disita oleh mereka saat mengaruk, padahal untuk beli gitar kami harus menabung, ya kalau kena garukan kami pasrah, padahal kalau kami digaruk dibawa ke balai kota untuk didata dan dibentak-bentak sama Satpol PP. Kemudian kami dibawa ke penampungan di Green House 3 hari. Dipenampungan tersebut untuk ditata dan di bina, sesudah itu kami kejalan.

Sedangkan Kabid Rehabilitasi Bantuan Pelayanan Sosial Dinkesos Kota Yogjakarta, Suharto, saat ditemui SM di ruang kerjanya (red 6/6) mengatakan, anak jalanan ada karena disebabkan faktor ekonomi, broken home dan orang tuanya sakit jiwa, yang akhirnya mereka jadi anak jalanan.

Kalau mereka terjaring petugas Satpol PP, mereka kita tampung di Panti Karya maupun ke Panti Asuhan Wiloso Projo. Namun karena keterbatasan tempat mereka tidak tertampung ke Panti semua. Kalau di Panti bagi anak usia sekolah kita sekolahkan bagi yang tidak sekolah kita kita beri ketrampilan dan wirausaha. Sedang anak dari Yogja yang masih memiliki keluarga kita serahkan kepada keluarganya, namun jika orang tuanya tidak mampu kita tampung di panti.

Menurut Suharto, tidak semua anak betah tinggal di Panti, banyak juga anak yang sudah di panti akhirnya kembali ke jalanan karena mental anak – anak yang sulit diperbaiki. Akan tetapi kita tetap berusaha mengembalikan anak –anak ini hidup di masyarakat normal.

Sedang Kepala Dinas Ketertiban Kota Yogjakarta, Bapak Wahyu Hidayat, diruang kerjanya Komplek Balai Kota (red, 1/7) menjelaskan penertiban anak jalanan dan gepeng yang dilakukan oleh satpol PP bertujuan meningkatkan kenyamanan dan ketertiban kota selain untuk mendukung pariwisata berbasis budaya dan Yogjakarta sebagai kota pendidikan.

Wahyu menambahkan, dasar hukum KUHP dan perda tentang Ketertiban menjelaskan, bahwa setelah anak jalanan dan gelandangan pengemis kita razia kita serahkan ke Dinkesos untuk dibina dan mereka pada umumnya yang terkena razia adalah wajah-wajah lama sedang untuk garukan kita lakukan situasional jadi tidak pereodik.

Penanganan masalah anak jalanan dan gepeng harus melibatkan semua pihak steakholder pemerintah, masyarakat, LSM dan anak jalanan itu sendiri. Dalam penanganannya mereka harus jadi subyek bukan obyek wacana. Perda anjal dan Gepeng yang selama ini ditolak oleh mereka karena kurangnya keterlibatan anjal, gepeng dan komunitas jalanan lainya. Untuk itu perlu adanya dialog bersama diantara pihak – pihak yang terkait. Mereka perlu dibina tapi lebih diutamakan pada pemberdayaan bukan represip tapi preventif.

Ibnu, Suara Malioboro untuk Siar

Satu Tanggapan

  1. SATPOL KEPLE ASUUUUUUUUUUUUUUU!!!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: