Saya Ga Suka Duri Dalam Daging…..

Salam…
Sewaktu saya membuat tempat sampah di depan rumah, tetangga saya sambil bercanda bilang…
“nah gitu..jadi kan saya ga jauh buang sampahnya”
tapi ada juga yang bilang, “nanti kalau hujan banyak lalat donk mas”…
intinya???
Tidak semua niat baik berbuah baik juga…
pro dan kontra bukan suatu hal yang bisa ditangkal, karena memang mutlak ada dalam hal terkecilpun. Apalagi dengan pendirian radio komunitas di suatu daerah…
di Desa Ciborelang misalnya, Radio Komunitas Caraka FM sudah 1 tahun lebih berdiri dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang memang menyetujui dengan keberadaan Caraka FM.
tapi diantara kerumunan orang-orang yang memang setuju tersebut, pastilah terselip beberapa gelintir orang yang tidak merasa wellcome (bukan keset ) dengan Caraka.
dan itu memang terbukti…
mudah saya pahami kalau memang itu adalah orang-orang yang (maaf) berpendidikan rendah, tapi yang membuat saya (bingung), ternyata beberapa diantara orang yang tidak menyukai dengan keberadaan Caraka adalah orang berpendidikan yang seharusnya bisa menterjemahkan bahasa penyiaran kedalam bahasa yang bisa dipahami oleh masyarakat disekitarnya sehingga benar-benar dimengerti oleh orang-orang yang berada di bawah levelnya.
yang lebih celakanya lagi, “Tak Kenal Maka So Tau”…
karena merasa tidak nyaman atas kehadiran Rakom disekitarnya, orang-orang tersebut memberikan deskripsi yang salah tentang kehadiran Radio Komunitas kepada orang lain, yang akhirnya salah persepsi tersebut menyebar dan terus menyebar dari mulut ke mulut dan Face to Face (kata Tukul).
Wal hasil…orang-orang yang tadinya merespon positif terhadap Rakom, malah mundur teratur…(tidak perlu saya sebutkan bagaimana dengan orang yang tadinya merespon negatif setelah terpengaruh kan?)

Duri dalam daging kah??…B U K A N

Tapi…

“Lalat dalam kopi…”
Ga dibuang juga ga bakal bikin kita “mati”…
Tapi kalau ga dibuang, bikin kita Jijik…

(fx_evolution@yahoo.com – Caraka FM)

========================

Sebuah perjuangan dalam kita mengelola sebuah radio komunitas pasti
ada kendala, tapi itu merupakan cambuk bagi kita, agar lebih baik
Mengelola radio tidak hanya bisa bersiaran atau membuat berita tapi
mengelola komunitas penggemar/simpatisan maupun “musuh” radio
komunitas jauh lebih penting. sekali kali cobalah “musuh” radio
komunitas diajak bergabung agar bisa nerasakan manfaat rakom di
wilayahnya janganlah sekali kali meremehkan mereka, karena mereka
adalah bagian dari kita… boleh dicoba. Pengalaman kami dulu justru
kami saat ini yang siaran adalah orang orang yang membenci dan
mencemooh radio kami Panagati (karena kami dianggap radio yang menjual
informasi pada pihak luar spt LSM dsbnya.) Padahal sekarang kami
menerima bantuan dari orang orang yang dulu memnemci radio komunitas
kami.Selamat mencoba!. (P. KOEN Panagati Terban, YK.)

==================

Sepakat sekali dengan Pak Koen.
setidaknya saya dan pak Koen punya pendapat yang sama, “musuh” jangan
dijauhi dan dihindari. melainkan diajak untuk melihat manfaat yang
dihasilkan. hal serupa pernah, dan bahkan sering terjadi pada saya juga.
Jika pak Koen bercerita tentang kisah di Panagati, maka saya bercerita
tentang pengalaman saya di pertanian.

saya pernah menanam padi dengan metode SRI (System of Rice
Intensification). metodenya sangat aneh dan berbeda memang dari metode
tanam padi biasanya. pada saat itu, semua petani yang melihat mencemooh.
bibit pada padi sudah saya tanam pada umur 2 minggu, tidak menggunakan
banyak air, di tengah petak sawah dibuat parit lagi, menanamnya cuma
satu bulir padi, dan masih banyak lagi yang bagi sebagian orang itu
dianggap aneh. tapi biarin saja. cukup dibuktikan manfaatnya, maka
cemoohan yang awalnya keluar akan terbungkam begitu saja.

sekarang saya mencoba mengembangkan keong mas di dalam kolam kecil dan
khusus. banyak juga yang mencibir, dan mengatakan perbuatan saya adalah
sia-sia karena di sawah begitu melimpah keong mas. bisa diambil kapan
saja jika mau, dan gratis. tidak perlu “repot” kata mereka. tapi bagi
saya, memelihara keong mas secara intensif dan sebagai alternatif pakan
adalah merupakan soal Manajemen. Manajemen menyangkut waktu dan
Manajemen menyangkut pengelolaan sumberdaya. saya yakin seyakinnya bahwa
nanti cemoohan tersebut akan bungkam jika telah melihat manfaatnya.

intinya, jangan berhenti berkarya dan menghasilkan manfaat. karena dari
situ, masalah sampingan yang muncul dalam proses kita berkarya akan
terpendam dengan sendirinya.

merdeka!
ketut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: