Catatan Tragedi Monas “Anarkis, Sipil Meringis”

Tanggal 01 Juni 2008 kemarin tepat pukul 13.00 WIB, ketika saya mencoba untuk pertama kalinya ingin tahu bagaimana Monas (Monumen Nasional) di Jakarta dengan antusias dan penuh dengan semangat saya berusaha membuat semuanya menjadi berkesan. Ternyata memang benar-benar berkesan.. kesan yang tidak akan bisa dilupakan…

Hari itu saya dengan rombongan rehat untuk sekadar mengetahui monumen kebanggaan Indonesia ini. Kami sedikitnya mengetahui kabar dari para pedagang asongan di wilayah sekitar Monas bahwa tadi pagi sudah ada gerakan jalan santai beberapa massa. Mereka juga mengatakan bahwa hari itu juga akan ada aksi damai dari beberapa LSM sekira pukul dua siang. Tentu saja kami merasa santai saja, karena kami pikir mungkin keberadaan kami tidak mengganggu aktivitas mereka.

Selang beberapa menit kami turun dari bis, kami semua berusaha untuk menikmati dan mengabadikan keberadaan kami di Monas ini termasuk saya yang dengan begitu semangat ingin menunjukkan bahwa inilah saya ketika di Monas. Tidak hanya saya dengan rombongan waktu itu, ada juga rombongan dari masyarakat lain, rombongan ibu-ibu pengajian juga tampak menikmati kekokohan monumen ini. Sepuluh menit kemudian dari jarak ± 300 m, saya samar melihat gerombolan orang berlari dan mengendarai sepeda motor dengan membawa spanduk bagai disulut api meneriakkan lafaz-lafaz suci. Saya kaget dan dalam waktu beberapa menit saja mereka sudah tampak di depan mata, saya telah melihat gerombolan orang-orang bercadar atau semacam penutup wajah membabi buta menyerang semua orang yang ada di situ. Semua berteriak “Lari…lari….!!!”. tanpa pikir panjang, saya ikut lari seperti yang lainnya. Saya tidak menghiraukan ketika mengetahui kalau kyai saya yang ikut rombongan dipukuli sekira sepuluh orang oleh gerombolan itu. Ingin berusaha menolong, tapi apa daya saya terdesak oleh orang-orang yang ikut berlarian. Tiba-tiba teman saya tersungkur, saya kaget, berusaha mencoba membangunkan dia. Kemudian saya menengok ke kiri, masya Allah… pemandangan yang sangat mengerikan… seorang bapak tua dijenggut rambutnya, diseret dan dituduhkan kepadanya bahwa dia masuk kepada satu aliran sesat. Saya berteriak minta tolong, tiba-tiba “bukkk!” dari arah kiri saya ada semacam balok kayu menyambar pelipis kiri. Saya pun tersungkur di atas teman saya yang terjatuh. Sesaat pandangan saya gelap… Kami berdua berusaha bangun. Teman yang terjatuh pun ada yang membangunkan dan menolong memapahnya. Saya mengucek-ngucek mata mencari orang-orang untuk bisa menolong membangunkan saya sendiri. Semua terlihat mengerikan… tidak saya duga kalau dalam sekejap saja saya telah melihat kekejaman kepada kaum wanita, anak-anak, dan orang tua dalam waktu yang sama.

Masya Allah… apa yang terjadi dengan semua ini? Inikah aksi damai yang mereka katakan? Semua warga yang berkunjung menjadi sasaran amarah mereka. Apa sebenarnya yang mereka inginkan? Kenapa harus membabi buta seperti itu? Kalaupun memang mau menghabisi atau menganiyaya para pelaku aliran sesat, diusutlah terlebih dahulu jangan asal menuduh. Banyak warga sipil yang tidak mengetahui apa-apa. Mereka hanya menjadi korban kebinasaan yang tidak terbendung.

Anarkis, ya kata-kata itulah yang orang-orang katakan kepada tingkah gerombolan yang membabi buta tersebut. Entah ada berapa korban yang terjatuh dan terluka. Lagi-lagi sipil yang menjadi korban, meringis, karena anarkis yang misteris. Atas dasar apa kita harus menerima semua ini? Hanya karena ego yang menginginkan kemenangan dan kebenaran sendirikah yang akan terus diagul-agulkan? Sampai kapan?…. Semuanya menjadi samar bagi saya sendiri…

Hanya satu yang tidak samar lagi, kalau ternyata Pancasila benar-benar lahir tanggal 01 Juni.

Siti Maryam
Kru Radio Komunitas Caraka FM
Desa Ciborelang Kec. Jatiwangi Kab. Majalengka – Jabar
http://www.caraka-fm.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: