Sudah waktunya berbuat !!

Kawan-kawan,Baru saja tadi malam kita mendengarkan bersama pengumuman
pemerintah mengenai kenaikan harga BBM, yang kemudian disambung dengan
penjelesan mengenai pendistribusian BLT. Persoalan ini masih pro-kontra. Ada
yang setuju dan ada yang tidak. Bahkan demo-demo masih marak dilakukan oleh
banyak pihak di Jakarta dan kota-kota lain. Saya sedang tidak mengajak kita
untuk mengkritisi kebijakan itu. Suka atau tidak suka, kebijakan itu pasti
dijalankan dan program BLT sudah digulirkan. Ada hal penting yang
menjadi peluang penting untuk dilakukan oleh media-media komunitas, baik itu
radio maupun televisi (bahkan media cetak komunitas sekalipun). Peran apa
yang dapat dilakukan? Isu apa yang menjadi perhatian warga terkait kenaikan
BBM dan pembagian BLT? Ada beberapa hal yang menurut saya bisa
dilakukan pegiat TV dan Radio Komunitas. (1) Selama ini kita selalu
mendengar bagaimana pendapat elite dan demo mahasiswa terkait soal penolakan
kenaikan BBM. Mungkin ada baiknya kita juga dengar pendapat warga mengenai
isu tersebut. Apa yang mereka bayangkan  dan mereka rasakan? dan yang
tidak kalah penting apa yang dilakukan oleh warga?  Dulu… jaman
baheula, sebagian kita mungkin masih ingat ada social safety net (JPS) yang
memang benar-benar lahir dan ada ditengah komunitas. Bentuknya bukan pada
pembagian BLT, proyek padat karya. Tetapi pada bentuk-bentuk solidaritas
sosial yang terbangun di tiap2 kampung. Masih ingatkah kita soal lumbung
desa. Lumbung yang disiapkan oleh desa untuk menghadapi masa paceklik, yang
diperuntukan bagi warganya. Atau solidaritas di tingkat dusun, mengumpulkan
dana kesetiakwanan ketika ada warga yang kesulitan kemudian dibantu, dan
masih banyak wadah-wadah lain. Wadah semacam ini, hampir punah. Bahkan
bertambah pundah lagi ketika krisis 1997 yang lalu digilas oleh program JPS
versi Pemerintah. Lihat saja kini solidaritas antar warga mulai jauh
berkurang. Tentu sebabnya tak hanya karena program JPS itu, masih banyak
yang lain. Tapi tahukah kita, apakah wadah-wadah yang bermodalkan
solidaritas sosial itu masih terpelihara? Jika ada dimana? media-media
komunitas bisa menggali di komunitasnya tentang kearifan lokal masing-masing
terkait hal itu. Di formulasikan dengan baik, di upload melalui milis2 kita,
website yang terkait. Dari istu kita bisa belajar satu sama lain, dan
menjadi inspirasi bagi kita semua untuk mengambil inisiatif di kampung kita
masing-masing. Pertukaran pengetahuan mengenai isu ini akan menjadi kekuatan
penggerak baru di lapangan. Dan peran TV maupun Radio komunitas sangat
penting dalam hal pengelolaan dan sharing pengetahuan ini.(2) Pada masa-masa
sebelum ini, salah satu persoalan terbesar dalam pendistribusian BLT adalah
ketepatan pada sasaran. Biasanya daftar penerima BLT itu ditentukan dari
luar (BPS, Pemerintah Kab/Kota, pemerintah desa). Bisa saja mekanisme itu
diikuti oleh warga. Tetapi harus ada kontrol yang jelas, apakah si A memang
berhak menerima, si B memang pantas menerima. Bagaimana caranya? Media-media
ini merilis daftar penerima BLT di kampungnya masing-masing, lengkap dengan
data-data dan identitas keluarga miskin yang terdaftar. Ini dilakukan
sesering mungkin. Dampak apa yang diharapkan? Suara warga!! Suara warga
mengenai list tersebut. Apakah ada yang dianggap tidak benar, data
dimanipulasi, tidak sesuai dengan kondisi sekarang dan sebagainya. Dengan
metode penyampaian yang masing-masing media saya kira sudah bisa paham
bagaimana melakukannnya, kita mendapat feedback langsung dari warga.
Feedback tersebut dikelola sedemikian rupa untuk diajukan pembahasannya
dalam rapat2 desa misalnya. Atau langsung disampaikan kepada Kepala Desa
(Kepala Desa diundang talkshow ke radio/TV untuk dimintai komentarnya).
Dalam konteks persoalan ini, media komunitas ditempatkan sebagai watch dog
yang benar-benar merupakan penyambung lidah kelompok-kelompok warga. Cerita
dan proses yang dilakukan ada baiknya juga kemudian di share kepada media
komunitas yang lain, harapannya akan terbangun kekuatan komunitas dalam
rangka memonitor proses-proses penyaluran BLT maupun program-program
sejenis. Dan ini semua disandarkan kepada kepentingan komunitasnya
masing-masing (ide ini sebenarnya terinspirasi dari radio dan buletin
komunitas ANGKRINGAN delapan tahun yang lalu).Tentu saja masih banyak
ide-ide yang bakal lahir dari kawan-kawan terkait respon kita terhadap
kebijakan yang baru saja ditetapkan oleh Pemerintah tadi malam. Saya yakin
pula sudah ada kawan-kawan pegiat media komunitas yang menjalankan
proses-proses ini semua. Salam, Imam PrakosoCombine Resource
Institutioniprakoso@combine.or.idwww.combine.or.id On May 23, 2008, at 2:33

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: