test

Tukang Potong Rambut Keliling jadi Penyiar Primba FM

Berkeliling antar tempat tinggal, warung, di Desa Yosorejo, Kecamatan Petungkriyono sambil mententeng tas hitam kecil adalah pekerjaan sehari-hari Wahiri. Seorang bapak dari 2 orang anak klas 6 dan 3,5 th. Adalah sebagai tukang potong rambut keliling, itulah kebisaannya dalam mempertahankan hidup di tengah jaman yang sudah serba modern sekarang ini. Pemangkas rambut keliling ini juga sebagai penyiar di radio komunitas Primba fm, yang berada di pusat kecamatan atau yang biasa disebut puncak Petungkriyono.
Baca lebih lanjut

Harga Mintak Tanah Mencapai Rp 8.000,- Per Liter

BANDUNG-Harga bahan bakar minyak (BBM) semakin melambung tinggi, hal tersebut dirasakan oleh warga Cibangkong dengan harga minyak tanah mencapai Rp 8.000 per liter. Warga sangat terkejut dengan harga tersebut, karena setiap hari mereka menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari untuk bahan bakar kompor.

Warga yang setiap harinya menggunakan minyak tanah kurang lebih satu liter tentunya sekarang sangat tertekan, selain harga yang sulit dijangkau minyak tanah pun kini cukup langka. Tini (45) salah satu warga Kelurahan Cibangkong, Kecamatan Batununggal yang mengeluh dengan mahalnya harga minyak tanah.

“Kalau kemarin pas harganya Rp 3.000 seliter, ya masih bisa terjangkaulah. Tapi sekarang udah mencapai Rp 8.000 seliter, waduh sangat bingung juga kalau mau masak. Mahalan beli minyak tanah dibandingkan beli beras.” ujarnya.

Dengan harga Rp 8.000 per liter dan langkanya minyak tanah membuat warga bingung untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Jika pun ada yang jual di agen ataupun pedagang eceran itupun jaraknya cukup jauh dan harus antri untuk membelinya.

“Udah mah mahal susah lagi nyarinya. Untung saja saya mendapatkan meskipun jaraknya cukup jauh dan harus antri yang cukup panjang. Ya lumayanlah untuk satu hari juga. Harusnya pemerintah mensosialisasikan dulu kepada kita sebelum menaikkan harga suapaya kita bisa mencari jalan alternatifnya. Udah mah sekarang teh mau bulan puasa, ga mikir pisan pemerintah teh” ungkap Pandi (52) dengan nada mengeluh.

Tidak menutup kemungkinan penggunaan bahan bakar jaman dulu akan terlulang lagi sekarang ini dengan menggunakan kayu bakar. Karena dengan harga minyak tanah yang mulai diluar jangkauan warga tidak menutup kemungkinan kayu bakar akan kembali digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

RSC FM. Cibangkong Melaporkan

editor (roni.vikers@gmail.com)

Permainan Tradisional Yang Terlupakan

Mungkin masih teringat dalam pikiran kita beberapa permainan yang dilakukan ketika masa kecil. Misalnya congklak, gatrik, galah, dan masih banyak lagi jenis permainan lainnya. Namun keberadaan permainan tersebut saat ini semakin terlupakan seiring banyaknya permainan modern.

Di desa mungkin kita masih menemukan permainan tersebut, tetapi di kota-kota besar seperti Bandung, hal tersebut mulai jarang terlihat. Harus diakui seiring dengan kemajuan teknologi, anak-anak yang tinggal di kota-kota besar semakin asing dengan permainan tradisional. Sering kita jumpai di pinggiran jalan raya banyaknya warung internet (Warnet) game online ataupun di gang-gang rental playstation (Ps).

Anak-anak cenderung lebih memilih permainan yang modern dengan alasan lebih bagus dan lebih ramai. Angga (12) merupakan salah satu dari sekian anak-anak warga Kel. Cibangkong Kec. Batununggal Bandung yang menggemari ps. “Setiap hari saya main ps karena asik dan juga permainannya bagus-bagus.”tuturnya sambil asik bermain.

Padahal, permainan tradisional dapat menjadi identitas warisan budaya di tengah keterpurukan kondisi bangsa ini. Selain juga bermanfaat untuk melatih fisik anak untuk lebih kuat, serta juga dapat mengasah kemampuan bersosialisasi, bekerja sama dan menaati aturan.

Dimulai dari orang tua

Sebenarnya tidak sulit memperkenalkan permainan tradisional kepada anak-anak. Kuncinya harus ada peran aktif dari orang tua, sehinga anak-anak bersedia dan suka memainkannya. Mungkin bisa dengan cara mengajak anak dan teman-temannya melakukan salah satu permainan, dan memberikan contoh cara memainkannya.

“mungkin kita bisa menerangkan atau mempraktekan kepada mereka bahwa permainan tradisional tidak kalah seru dengan permainan yang menggunakan mesin. Atau mungkin di awali dengan sedikit cerita kita waktu kecil.”ungkap Tarsun (56).

Selain juga mengenal dan mengajarkan kepada anak-anak, orang tua juga bisa memberikan pengetahuan kepada anak bahwa di Indonesia sangat banyak dan beragam jenis permainan tadisional.

roni.vikers@gmail.com

RSC FM, Cibangkong Melaporkan

Apa makna dari sebuah Kemerdekaan ???

Merdeka merupakan Sebuah kata yang dapat membangkitkan semangat juang para pahlawan bangsa Indonesia tempo dulu. Sebuah kata yang sangat dinantikan ketika bangsa Indonesia masih dalam masa perjuangan membebaskan diri dari penjajahan. 17 Agustus 1945 menjadi puncak dari kata pengucapan kata ini. Satu makna dengan seribu arti. 63 tahun sudah bangsa Indonesia dengan bangganya mengucapkan kata ini. Pada bulan Agustus ini kata tersebut terasa kurang berkesan dan bahkan cenderung dilupakan dan yang lebih disayangkan lagi diabaikan.


Namun sekarang yang menjadi sebuah pertanyaan di kalangan bangsa Indonesia, Benarkah kemerdekaan itu telah kita capai. Berapa besar Hutang luar negeri yang kita punya? Berapa jumlah penduduk miskin yang ada? Berapa kebijakan dari pemerintah yang “disetir” oleh bangsa Asing? Berapa banyak Rakyat Indonesia yang menjadi “kuli” di negerinya sendiri ?

Apakah dapat dilihat dari posisi Indonesia sebagai nominator “bangsa terkorup di dunia”? Apakah dapat dibuktikan dengan masuknya Bangsa Indonesia kedalam daftar negara terkenal dengan “Pornografinya”? Apakah dapat ditunjukkan dengan angka Kriminalitas yang semakin tinggi?

Apakah cukup dengan menyelenggarakan upacara bendera, memasang bendera dan asesoris pendukung. Atau dengan mengadakan acara malam tirakatan sampai pagi ? atau … mengadakan perlombaan maupun acara yang terkesan “hura-hura”, , apalagi kalau dilihat dari konten acaranya kurang memberikan “makna ” akan sebuah arti kemerdekaan.

Saatnya kini kita renungi makna dari sebuah kemerdekaan, Sudahkan kita menjadi bagian dari sebuah perjuangan menuju kemerdekaan yang sejati. Sudahkah kita berusaha untuk mencapai kemerdekaan yang abadi. Perjuangan tidak berhenti samapai disini, karena masih banyak hak-hak yang perlu kita perjuangkan sebagai Bangsa Indonesia.

Tidak ada kata finish dari sebuah perjuangan, perjuangan tidak bisa diwujudkan dengan sebuah “peringatan 17 Agustus” melainkan dengan sebuah tindakan nyata. Istilahnya Aa Gym, gunakanlah 3 M : Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang kecil dan mulai saat ini untuk meneruskan sebuah perjuangan.

Roni.

16 Agustus 2008

Dada – Ayi Pimpin Bandung periode 2008 – 2013

Keunggulan suara mutlak yang di peroleh Dada –Ayi dalam Pilwalkot 10 Agustus 2008 membuat Dada Rosada berencana untuk meneruskan 7 Program Prioritas kota Bandung. Untuk meneruskan 7 Program Prioritas antara lain bidang pendidikan, kesehatan, kemakmuran, lingkungan, seni budaya, olah raga, dan agama tersebut Dada mengajak pasangan Trendi dan Hadi untuk melaksanakannya berbarengan. “Saya akan lanjutkan program. 7 program prioritas harus berbarengan dan semua itu prioritas,” tutur Dada Rosada saat ditemui usai acara rapat pleno KPU Kota Bandung tentang rekapitulasi perhitungan suara Pilwakot, di Hotel Grand Pasundan, Jalan BKR, Jumat (15/8/2008).

Dada Rosada – Ayi Vivananda (Dada – Ayi) dengan nomer urut 1 yang didukung oleh 6 partai (Golkar, PDIP, Demokrat, PPP, PAN, PKB) serta 17 partai non parlemen meraih suara 665.073 suara atau 64,82 persen. Sedangkan pada nomer urut 2 Taufikurahman-Deni Triesnahadi (Trendi) diusung oleh PKS memperoleh suara 265.523 suara atau 25,88 persen. Dan pasangan nomer 3 Hudaya Prawira-Nahadi (Hadi) merupakan pasangan dari jalur perseorangan (independent) hanya memperoleh suara sebesar 95.518 atau 9,31 persen. Total suara sebanyak 1.026.104. Data tersebut berdasarkan real count yang dilakukan oleh KPU Kota Bandung, Kamis 14/8/2008  pukul 18.00 WIB.

Roni.vikers@gmail.com

Bencana Banjir Sulawesi Tengah

Ribuan orang masih mengungsi di berbagai tempat, akibat banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah pada tanggal 10 Juli 2008 lalu. Mereka membutuhkan bantuan pangan, obat-obatan dan pakaian. Demikian info yang disampaikan oleh Syahrurozi (32) alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang juga menjadi korban bencana banjir melalui telp beberapa saat yang lalu (29 Juli 2008).

“Setidaknya ada sejumlah lebih dari 900 KK (kepala keluarga) yang hingga saat ini masih mengungsi.” ujar Syahrurozi yang juga warga Kecamatan Toili Barat, Sulawesi Tengah.

Bencana itu akibat meluapnya sungai besar Kayoa dan Sinarong yang mengakibatkan terputusnya jalur Palu (Ibu Kota Sulteng) menuju Luwuk.

Syahrurozi menambahkan, sejauh ini sudah ada bantuan dari pemerintah setempat, namun belum merata ke semua pengungsi karena jumlah terbatas, dan sulitnya akses ke lokasi bencana.(BH)